|
Pada
awalnya, Drg. Rizali Noor sebagai Kepala Direktorat Kesehatan
Gigi DepKes meminta Sr. Drg. Be Kien Nio untuk membuktikan
bahwa suatu klinik yang mengkhususkan diri pada usaha pencegahan
dapat meningkatkan kesehatan gigi sekaligus bermanfaat bagi
pengelolanya. Hal ini merupakan tantangan karena pada waktu
itu upaya-upaya kesehatan gigi, terutama klinik atau praktek
swasta, lebih banyak melakukan pengobatan (kuratif) daripada
pencegahan (preventif).
Rencana
tersebut mendapat dukungan dan tantangan positif dari pimpinan
biara, gereja, dan rekan-rekan sejawat Sr. Kien. Mereka
adalah Sr. Dionysia Michels selaku provinsial Ursulin, Mgr.
Arntz OSC Alm selaku Uskup Bandung, Prof. Drg. R.G. Soemantri,
dan Sr. Rosemary Huber MM. Mereka sepakat untuk mendirikan
sebuah yayasan yang mempunyai misi untuk meningkatkan kesehatan
masyarakat melalui upaya pencegahan dan pendidikan dalam
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) & Pendidikan Kesehatan
Gigi (PKG).
Yayasan
Kesehatan Gigi Indonesia mengawali karirnya pada tahun 1972
dengan UKGS di sebuah Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak
saja. Dalam beberapa tahun berkembang pesat menjadi beberapa
sekolah.
Pada
tanggal 22 Maret 1973 diresmikan sebuah Poliklinik gigi
YKGI yang berlokasi di jalan Anggrek 60 Bandung. Klinik
ini terletak di lantai dasar asrama putri Providentia, yang
merupakan bagian dari komplek Susteran Ursulin. Suster Dionysia
selaku Providensial waktu itu sangat mendukung usaha ini
karena unsur pendidikan yang tertanam dalam kiprahnya.
Pada
tahun 1997, YKGI telah melayani 9 sekolah Taman Kanak-kanak,
5 Sekolah Dasar dan disamping itu 6 Taman Kanak-kanak insidental
baik negeri maupun swasta dengan jumlah total 4103 anak.
Jumlah ini terasa kecil dibanding dengan jumlah penduduk
Indonesia yang begitu besar, tetapi tujuan yayasan bukanlah
suatu mega proyek, melainkan suatu usaha menggunakan pendidikan
dan pencegahan secara sistematis dan konsekuen untuk mencegah
penyakit gigi dan mulut secara mandiri.
|